Selasa, 21 Maret 2017

Panahku melesat jauh

Kabar itu terdengar ringan saja, hatikupun seperti tak merasaksn apa-apa. Tapi tiba-tiba kabar itu berulang, yang ini benar-benar mengejutkan "keduanya ga ada".
Saat itu aku benar-benar terkejut, aku menangis, aku menjerit, mulutku tak henti menyebut namanya.  Bang, umi masih pengen bareng , pengen melihat kamu beranak pinak, milihat kamu succes dengan karir yang istimewa,hidup mapan dengan segudang aktifitas dan komunitas, menjunjung nama baik keluarga, berguna bagi bangsa dan pembela agama.
Tapi itu semua hanyalah harapan , nyatanya umi tak melihat lagi kamu bahagia dengan keluarga, umi tak mendengar lagi kalau kamu dipercaya tuk menjabat ini dan itu, umi tak kamu kabari lagi kalau kamu sedang atau akan melakukan sesuatu dengan komunitasmu, bahkan umi tak mungkin lagi berharap kalau kelak kita akan ibadah dan berpasrah bersama keluarga.
Bang, kamu dah pergi jauh sekali, meninggalkan kami yang mencintaimu, membiarkan kami yang masih sangat membutuhkanmu, membuang harapan kami yang masih ingin berbagi denganmu.
Kamu pergi, kamu terbang, bahkan kamu melesat jauh sekali yang membuat kamu tak akan pernah kembali.
Umi ikhlas, umu ridho, walaupun sebenarnya masih sangat ingin berlama-lama bersama. Umi sadar kamu hanyalah titipan, dan ketika yang MEMiLiKi mu memintamu kembali itu artinya DIA lebih menyayangi dan merindukanmu
Pergilah anakku ,doa kami menyertaimu
Terbanglah burung kecilku, karna
syurga telah menunggumu
Melesatlah jauh anak panahku, menuju tempat abadi dengan bekal yang sudah kamu miliki.
Alhamdulillah, hamba bersyukur dengan semua titipan yang KAU percayakan pd hamba.

Tidak ada komentar: